Sabtu, 08 Desember 2018

CERPEN



 Takut Neraka tapi Sudah Terbakar


Kabar kematian istri Bunali sampai juga pada Pak Lurah yang baru pulang dari umrah. Dia kaget dan lebih kaget lagi karena orang-orang membicarakan dirinya dan keluarganya. Menyalahkannya karena dianggap menelantarkan istri Bunali yang bekerja di rumahnya. Pak Lurah risih dan menolak anggapan semacam itu. Dia dan keluarganya merasa sudah cukup membantu almarhumah dengan mengangkatnya sebagai pembantu di rumahnya.
“Saya sebetulnya sudah punya dua pembantu, tapi karena kasihan pada istri Bunali, saya minta dia membantu di rumah. Padahal saya tak terlalu butuh. Kenapa orang-orang menyalahkan saya?”
Begitulah yang disampaikan Pak Lurah pada Mat Piti, ketika usai tarawih, Mat Piti berkunjung ke rumah Pak Lurah untuk menyampaikan selamat atas umrahnya. Istri Pak Lurah sesekali ikut menimpali omongan suaminya. Mat Piti hanya mendengarkan omongan keduanya. Dia tahu, pokok persoalan yang ingin disampaikan Pak Lurah adalah Cak Dlahom. Omongan dan tingkahnya.
Pak Lurah terus nyerocos. Pak Lurah baru jedah ketika para tamu semakin banyak berdatangan. Pak RT, Dullah, Warkono, Busairi, dan orang-orang dari kampung sebelah seperti Marja juga terlihat datang. Mereka semua menyalami Pak Lurah. Menyampaikan selamat untuk umrahnya. Umrah yang kesekian kali dilakukan Pak Lurah. Dia juga sudah berhaji.
Dan semakin malam, semakin banyak tamu yang datang. Mereka duduk-duduk di karpet yang digelar di teras depan yang luas.
Rumah Pak Lurah berukuran besar. Paling besar di kampung itu. Halamannya yang juga luas ditumbuhi pohon-pohon berdaun lebat. Dia punya berhektar-hektar sawah. Beberapa kambing yang dikandangi di dekat rumah reot yang pernah ditempati Cak Dlahom, hanyalah satu kandang penuh kambing dari sekian kandang penuh kambing lainnya milik Pak Lurah. Sapinya ditumpuk di satu kandang di dekat gapura desa. Setiap lebaran haji, hari raya kurban itu, hanya Pak Lurah satu-satunya orang di kampung yang berkurban sapi. Lalu dia akan selalu kebagian daging bagian paha belakang. Dua paha.
Pak Lurah memang seperti punya semuanya: harta, keturunan, dan jabatan. Tiga anaknya bersekolah di kota. Sekolah tinggi. Kecantikan istrinya hanya bisa disaingi oleh Romlah, istri Sunody Abdurrahman. Dia juga dianggap mewarisi perbawa dari orang-orang yang dianggap penting di kampung.
Buyutnya adalah lurah pertama di kampung. Pembabat alas. Buyutnya digantikan oleh kakeknya. Kakeknya digantikan oleh bapaknya. Bapaknya digantikan Pak Lurah. Dan Pak Lurah sudah dua kali jadi lurah. Sudah hampir 10 tahun. Bisik-bisik di kampung sudah ramai: Pak Lurah sedang menyiapkan anak laki-laki tertuanya untuk juga jadi lurah.
“Saya tersinggung Pak Mat.”
“Cak Dlahom tidak bermaksud menyinggung Pak Lurah…”
“Tapi dia bertingkah seolah saya tidak bertanggungjawab. Anti-sosial. Begini-begini saya juga ngerti ilmu agama. Sebisa mungkin menaatinya Pak Mat.”
“Saya minta maaf Pak Lurah atas nama Cak Dlahom…”
Pak Lurah meneruskan ocehannya. Orang-orang saling berpandangan. Mereka tahu Pak Lurah sedang marah, dan itu karena ulah Cak Dlahom. Orang yang dianggap sinting yang kadang mengharu biru. Kadang mereka rindukan. Kadang mereka tidak suka.
Setiap omongannya seperti melawan arus pendapat orang-orang kampung. Menyebalkan tapi mereka juga susah membantahnya, karena omongan Cak Dlahom sedikit-banyak ada benarnya. Lalu mereka merasa hidup mereka telah terpengaruh oleh Cak Dlahom. Tatanan sosial di kampung pun berubah sedikit-sedikit. Tapi mereka juga memaklumi jika Pak Lurah marah. Insiden selepas subuh di masjid, ketika Cak Dlahom menggotong beberapa karung berisi tanah dari makam istri Bunali lalu menumpahkannya di halaman masjid, bagaimanapun telah menempatkan Pak Lurah sebagai sosok yang tidak bertanggungjawab.
“Saya sudah menyampaikan maaf pada Cak Dlahom karena sebagai ketua RT, saya abai pada almarhumah istri Bunali, Pak Lurah…”
“Sampean itu tidak salah Pak RT, kenapa harus minta maaf?”
“Hanya agar Cak Dlahom tidak semakin kumat Pak…”
Orang-orang masih mendengarkan Pak Lurah mengoceh sembari menikmati hidangan kurma dan minum air zam zam, oleh-oleh Pak Lurah dari berumrah. Mereka tidak ada yang menyela. Tidak berani. Angin malam menerbangkan udara lembab.
Sudah hampir tengah malam. Tiba-tiba… bruk…
Terdengar sesuatu seperti jatuh dari pohon. Orang-orang tersentak. Beberapa segera bediri dan bergegas mencari tahu asal suara. Dan mereka terkejut mendapati Cak Dlahom bersila di bawah pohon jambu.
“Loh Cak, sampean?”
“Sampean jatuh dari pohon?”
“Ndak apa-apa Cak?”
“Kok sudah bersila?”
“Wah kebetulan, Pak Lurah lagi ngrasani sampean…”
Silih berganti orang menanyai dan mengomentari Cak Dlahom tapi orang yang ditanya malah cekikikan.
“Ajak ke sini Cak Dlahom…”
Suara berat Pak Lurah terdengar, tapi orang-orang tidak ada yang berani mengajak Cak Dlahom. Cak Dlahom terus cekikikan. Dia berdiri. Berjalan ke teras tempat Pak Lurah, Pak RT, Mat Piti dan orang-orang kampung sedang cangkrukan. Sarungnya terangkat hingga betisnya yang kurus terlihat. Dia lalu duduk di pojok teras agak jauh dari orang-orang.
“Sehat Cak?” Pak Lurah membuka percakapan. Cak Dlahom tak menjawab. Matanya memandang penuh pada Pak Lurah. Orang-orang mulai dilanda perasaan kuatir.
“Begini loh Cak, sampean harus hati-hati ngomong untuk hal-hal yang sampean tidak tahu.”
“Apa yang saya tahu Pak Lurah? Saya memang tidak tahu apa-apa. Tidak pernah tahu…”
“Tapi sampean seolah menyalahkan saya untuk kematian istri Bunali Cak?”
Orang-orang kembali saling lirak-lirik. Mat Piti memandangi Cak Dlahom. Mereka merasakan udara lembab berubah menjadi hangat.
“Hehehe… Sampean merasa disalahkan toh?” Cak Dlahom membuka suara sambil cekikikan. Dia sudah tidak memandangi Pak Lurah.
“Ya jelas Cak. Gara-gara omongan sampean, saya jadi omongan orang-orang seluruh kampung. Saya dianggap tidak bertanggungjawab. Dianggap lalai. Dianggap tidak mengayomi…”
“Sampean takut omongan orang-orang?”
“Begini Cak. Saya memang tidak menjenguk istri Bunali ketika sakit karena banyak yang saya urus, tapi saya masih membayar dia. Sampean ndak tahu kan? Setiap tahun saya mengeluarkan zakat, infak dan sedekah untuk anak yatim dan fakir miskin karena itu hak mereka. Setiap tahun saya berkurban karena diwajibkan oleh agama. Saya menyumbang masjid. Gini-gini saya tahu hukum agama kok. Sampean jangan mentang-mentang…”
“Untuk apa sampean melakukan itu semua?”
“Itu ajaran agama Cak. Gimana sampean ini?”
“Tujuannya Pak Lurah. Tujuan sampean. Untuk apa?”
“Sedekah dan berkurban itu akan dibalas berlipat-berlipat oleh Allah, dan menghindarkan manusia dari api neraka.”
“Jadi yang mana yang sampean mau? Diberi balasan berlipat-lipat oleh Allah, atau sampean takut neraka?”
“Apa ndak boleh manusia berharap? Apa sampean berani masuk neraka?”
Cak Dlahom cekikikan. Pak Lurah melotot. Mat Piti mulai menggeser pantatnya. Orang-orang tetap membisu.
“Neraka itu ada di mana Pak Lurah?”
“Ya sampean pikir sendiri. Neraka kok ditanya ada di mana…”
“Apa sampean sekarang tidak merasa sedang masuk neraka?”
“Gimana sampean ini? Neraka itu ada di akhirat Cak. Nanti di hari pembalasan…”
“Terus kenapa sampean tersinggung hanya karena merasa orang-orang membicarakan keburukan sampean?”
“Nama baik dan harga diri saya dan keluarga saya jadi rusak! Hancur. Dan itu karena tingkah sampean…”
“Lalu sampean kepanasan?”
“Karena semua omongan tentang saya dan keluarga saya tidak benar. Fitnah! Tingkah sampean tidak benar…”
“Di bagian apanya dari sampean yang panas Pak Lurah?”
Tiba-tiba Pak Lurah berdiri. Dia bercekak pinggang. Cak Dlahom tetap duduk dan tetap cekikikan.
“Kalau mau tahu di bagian mana dari saya yang panas, saya jawab di sini! Di sini yang terbakar! Di sini..! Paham sampean?!”
Pak Lurah menunjuk-nunjuk dadanya. Matanya semakin melotot. Suasana tegang tak terhindarkan. Orang-orang tidak ada yang berani menengadah. Cak Dlahom juga sudah tidak cekikikan. Dari mulutnya, terdengar seperti orang sedang berkidung.
“…Celakalah para pengumpat dan pencela. [Mereka] yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. [Mereka] yang mengira hartanya dapat mengkekalkannya. Tidak. [Mereka] akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? Ia adalah api yang menyala-nyala. Membakar hingga ke dada…”
Orang-orang kembali saling pandang. Mereka seperti tersihir oleh suara Cak Dlahom. Suara Cak Dlahom yang sedang mengaji. Lirih. Pak Lurah pun terlihat mulai mengendorkan tangannya. Mat Piti mencuri pandang ke arah Pak Lurah. Dia melihat Pak Lurah duduk kembali dan tertunduk. “Ya Allah, saya keliru Cak. Saya sombong, saya hanya merasa… Saya sudah terbakar…”
Pak Lurah membuka suara.Tepat pada saat itu, suara Cak Dlahom yang semula mengaji lirih juga terhenti. Dari mulutnya keluar suara yang berbeda. “Huek, huek…”
Seperti ada sesuatu yang menyangkut di batang tenggorokannya. Orang-orang memperhatikan Cak Dlahom. Dan benar, sesaat kemudian dia memuntahkan sesuatu. “Saya yang salah Pak Lurah. Saya yang keliru. Saya yang minta maaf. Saya mengaji sambil makan kurma. Bijinya nyaris tertelan…”
Pak Lurah tetap tertunduk. Dua pembantunya keluar dari dalam rumah membawa dua ceret berisi kopi panas. Orang-orang mulai mesam-mesem. Dua tiga jam lagi menjelang waktu sahur.
[Diinspirasi dari kirah-kisah yang disampaikan Syeikh Maulana Hizboel Wathany Ibrahim]


Selasa, 24 April 2018

CERPEN


Slamet dan Kawannya
By. Deny Fadjar Suryaman
Gedubrakkkkk.. “aduuuhhh, siaalllll” lagi – lagi Slamet jatuh dari kasur yang seakan – akan itu telah menjadi tanda alarm yang slalu membuatnya terbangun dari tidurnya. Aneh, yah memang aneh, dulu waktu dia pertama kali lahir dari lobang ibunya (ingat lobang yang di bawah bukan lobang hidung ibunya) bapaknya kasih dia nama ‘Slamet’ itu karena bapaknya berharap dia tumbuh jadi anak yang beruntung, tapi entah aura apa yang slalu menaunginya sampai dia untuk bangun dari tidur aja slalu sial ‘Hahahahaa’.

 
Pagi itu setelah dia terjatuh dari tempat tidurnya, dia langsung beranjak ke kamar mandi. Di tempat yang kata anak muda zaman sekarang itu tempat bergalau karena di kamar mandi terdapat shower sebuah alat paten yang biasa digunakan anak muda untuk mengobati rasa galaunya itu Slamet hanya melakukan kebiasaannya setiap kali dia mandi, yaitu: hanya bergosok gigi dan membersihkan muka dengan pembersih muka saja. Dia slalu beranggapan bahwa mandinya seorang lelaki itu yah cuma gosok gigi dan membersihkan muka saja, jadi yah apa bedanya dengan kebiasaan yang slalu dia lakukan, menurut dia hanya yang membedakannya adalah dia tidak membasuh badannya dengan air. Menurut pendapatnya dia gak terbiasa membasuh badannya dengan air.

“heeh Slamet” sentak bokapnya yang datang tiba – tiba.
Slamet yang merasa kaget dengan reflex dia berkata “aduh jantung gue copot”
“tumben kamu jam segini mandi? Biasanya kan kamu mandinya nunggu matahari ada di atas ubun – ubun (baca, siang)”
“biasa pak hari minggu, mau main sama temen” balas Slamet.

Hari ini Slamet dan empat kawan ingin pergi bermain ke kota Jakarta, sekedar ingin bermain ke tempat yang ramai di kunjungi orang (setau geu sih Jakarta emang udah rame?? =_=” ). Dia dan empat temannya yang bernama Sopyan, Haris, Dadang, dan Budi (ini bukan Budi yang biasa anak SD sebut kalau lagi belajar baca, yaah!!!) pergi dengan menggunakan jasa kereta api.

“hei, sob kenapa kita gak pergi naik bus aja daripada naik kereta?” sahut Haris.

“heeh ris, naik kereta itu banyak seninya. Didalam loe bisa ngobrol sama penumpang, loe bisa godain mbak – mbak yang jualan, dan kalau loe beruntung bisa cari cewek didalam kereta. Gak kaya naik bus, cuma bisa duduk rapih, yang ada gue malah tidur. Jadi, gak ada seninya sob” terang Slamet.

“bener noh ris, udah lah naik kereta aja” sambung Dadang.

Dan akhirnya mereka berlima pun pergi dengan menggunakan kereta yang menuju Jakarta.

Didalam kereta sudah penuh sesak dengan penumpang yang ingin beraktivitas, baik yang ingin pergi beraktivitas ke kota Jakarta maupun hanya sekedar bermain sama seperti yang mereka lakukan. “sob mending berdiri di sambungan aja, percuma masuk kedalam gerbong gak akan dapet tempat duduk” ajak Slamet pada teman yang lainnya. Mereka berlima pun memenuhi sambungan kereta yang secara tidak langsung merupakan jalan lalu lintas para penumpang lain yang ingin berpindah gerbong ke gerbong yang lainnya.

Sesaat setelah kereta melalui beberapa stasiun, Sopyan yang berdiri tepat berhadapan dengan Dadang merasa gelisah. “sumpah, gue udah kaya orag pacaran aja sama si Dadang. Liat posisi gue (berdiri berhadapan seperti pasangan yang sedang bersiap untuk ciuman) gak gue banget”.

“najis loe yan, emang gue nafsu sama loe?” bantah Dadang.

“udah – udah liat Slamet sama Budi, anteng bener dengan posisi mesra gtu” Haris menyelah.
“kekes bud. Hahahahaaa” tambahnya.

Budi yang merasa posisinya dengan Slamet keliat aneh langsung menghentakan tangan Slamet yang bertopang pada dinding kereta yang tepat di bahunya sambil berkata “anjiir loe met”.

Slamet yang merasa kaget tanpa sengaja bibirnya menyentuh pipi mbak – mbak yang jualan nasi merah yang berdiri tepat di sebelah dia dan Budi. “astaghfirullah..” reflex Slamet, “maaf mbak gak sengaja”.
 “sengaja juga gak apa – apa kok” jawab mbak penjual.

“pindah – pindah sob, jangan disini berdirinya. Sumpah, gak aman posisinya” tambah Slamet pada temannya.

Mereka pun pindah mencari tempat yang lain.

Dan akhirnya mereka memutuskan berpisah, Haris dan Sopyan memilih berdiri didekat pintu kereta, Budi dan Dadang memilih masuk agak kedalam gerbong, dan Slamet hanya berdiri didepan pintu kamar mandi. Dan akhirnya mereka sampai di stasiun Serpong, yang artinya cuma beberapa stasiun lagi mereka sampai pada tujuan.

“ris liat tuh ada cewek di atas gedung, lagi liat kesini. Pasti dia lagi manggil bokapnya trus bilang ‘ayah – ayah ada orang ganteng tuh di kereta’ “. Terang Sopyan.

“wew, paling juga bokapnya bilang ‘aah, salah liat kali’ ”. Jawab Haris.

Tanpa disadari Haris, Dadang, Budi, dan Sopyan, ternyata Slamet yang sudah pindah berdiri di seberang pintu kamar mandi ternyata di hampiri seorang cewek cantik yang baru naik ketika di stasiun Serpong tadi.

“khhmmm, hajar met” teriak Budi yang meliat posisi Slamet sangat menguntungkan, bagai dapat durian runtuh.

Slamet yang lugu dan polos itu pun hanya terdiam dan bergetar karena posisinya yang berpulukkan dengan cewek itu, yang hanya dibatasi tas yang di gendongnya.

Dan akhirnya cewek itu pun turun di stasiun berikutnya.

  “woy cah, awas kaki loe tuh, jangan keluar pintu” sahut polisi yang bertugas menjaga di dalam kereta pada Haris.

“liat ris, awas wooyyy!!!” teriak Sopyan.

‘Wwwusssshhhhtttttttttttttt’
“selamet, selamet, hampir aja kaki gue putus nih yan”

“itu kan namaaaa guee rissss” teriak Slamet.

Akhirnya mereka pun tiba di stasiun kota di Jakarta. Dan bergegas turun dari kereta yang memberikan berbagai macam seni didalamnya.

“sumpah, lain kali gue gak bakal naik kereta lagi. Hampir aja kaki gue putus”  kata terakhir yang di lontarkan Haris yang kecewa dengan kejadian di kereta saat di stasiun.




CONTOH TEX PEMBAWA ACARA BAHASA JAWA


Contoh Naskah Pembawa Acara Pengajian Dalam Bahasa Jawa

Assalamu’alaikum Wr. wb
بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين و الصلاة والسلام على اشرف الانبياء و المرسلين سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين اما بعد

Khadrotil muhtaromin, dumateng poro alim, poro ulama, poro kyai, poro haji hajjah, poro ustadz ustadzah Ingkang kawulo hormati, wabil khusus dumateng panjenenganipun Almukarom KH. Saiful Anwar saking Harjowinangun Tersono ingkang kito mulyaaken lan kito tenggo2 punopo ingkang dados fatwa soho nasihatipun.

Dumateng panjenenganipun Bapak Abdul Manan selaku Ketua Tanfidziyah NU Ranting Desa Tembok beserta banom-banomnya, GP. Ansor, Muslimat Fatayat, Rekan-rekanita IPNU-IPPNU Ranting Desa Tembok ingkang kawulo hormati.

Dumetang penjenenganipun Bapak H. Maryoso, S.Pd selaku kepala Desa Tembok beserta perangkatnya ingkang kito hormati.

Hadirin-hadiro Rohimakumullah.

Sepindah monggo kito tansah muji syukur dumateng Allah SWT, ingkang sampun maringi pinten2 kenikmatan dumateng kito, salah setunggalipun nikmat iman lan islam, sehinggo kito taseh saget bertatap muka, bermuwajahah, bersilaturrakhim dalam kegiatan Selapanan Rutin Rebo Manisan NU Ranting Desa Tembok ingkang mboten wonten alangan setunggal punopo, kanti ngucap Alhamdulillahirobbil alamin.

Kapeng kalihipun, sholawat soho salam mugio katur deneng Nabi Agung Nabi Muhammad SAW, mugi2 kanthi kito ngrawuhi acara meniko saget dadosaken kito termasuk umat ingkang angsal syafaatipun, Amin2 ya robbal alamin.

Hadirin-hadirot rohimakumullah
Sak derengipun acara kito bukak, kawulo minangkani pranotocoro bade maosaken acara2 ingkang bade kalampah meniko.

Acara ingkang sepindah, pembukaan
Acara ingkang kaping kalih, waosan ayat-ayat suci al qur’an
Acara ingkang kaping tigo, prakata panitia
Acara ingkang kaping sekawan, sambutan-sambutan
Acara ingkang kaping gangsal, istirahat
Acara ingkang kaping enem, mauidloh khasanah sekaligus do’a
Acara ingkang kaping pitu-penutup.

Monggo kito bikak acara meniko kanthi waosan Ummul Kitab.


Matur nuwun, mugi-2 kanthi waosan meniko, saget dadosaken lancaripun acara meniko, amin ya robbal alaim.

Acara ingkang nomer kalih inggih meniko waosan ayat-ayat suci Al Qur’an, ingkang bade di waos deneng Al Ustadz Ikrom, dumateng penjenenganipun kawulo summanggaaken.

Dumateng penjenenganipun, kawulo aturaken maturnuwun. Mugi2 saget mempertebal iman lan taqwa dumateng Allah SWT.

Acara ingkang nomor tigo, inggih meniko prakata panitia, ingkang bade dipun sampeaken deneng .......... dumateng penjenenganipun kawulo summanggaaken.

Dumateng penjenenganipun kawulo aturaken maturnuwun.

Acara ingkang selajengipun, sambutan-sambutan

Sambutan ingkang sepindah, saking Ketua Tanfidziyah NU Ranting Desa Tembok, Dumateng
Penjenenganipun Bapak Abdul Manan kawulo summanggaaken.
Matur nuwun kawulo sampeaken.

Sambutan ingkang nomer kaleh, saking Kepala Desa Tembok, Dumateng Panjenenganipun Bapak H. Maryoso, S.Pd kawulo summanggaaken.
Matur nuwun kawulo aturaken.

Acara selajengipun, inggih meniko istirahat,
Kangge ngisi wekdal istirahat, dumateng grup rebana Cagar Seno
Istirahat kawulo cekapaken.

Acara ingkang terakhir inggih meniko mauidloh khasanah, ingkang bade dipun asto deneng AlMukarom KH. Saiful Anwar saking Harjowinangun Tersono. Dumateng penjenengaipun wekdal sepepnuhnya kawulo summanggaaken.

Maturnuwun kawulo aturaken, mugi2 punopo ingkang sampun dipun aturaken meniko, saget bermanfaat.
Saking kawulo minangkani pranotocoro, sedoyo kekhilafan lan kesalahan kawulo nyuwun agunging pangapunten. Akhiron, Wallahul Muwaafiq Iaa Aqwamith Thoriq Wassalamu’alaikum Wr. Wb